“Selama ini, sampah-sampah yang dihasilkan di seluruh pelosok Indonesia, selalu berujung pada lokasi yang sama, dan nasib yang sama. Berakhir di TPA, dan hanya menjadi gunung sampah yang mengundang banyak masalah…” kata Jang Edwin, “Idenya orang-orang bule ini harus dipikirkan pemerintah kita. Yaah, kalau tidak bisa membuat inisiatif langsung, minimal belajar dari mereka atau bekerjasama dengan mereka!” lanjutnya.
“Memang ide mereka apa Jang?” tanya Kabayan yang menemani Jang Edwin ngawur (memberi pakan) ternak lelenya.
“Ada perusahaan di Australia yang akan membangun peternakan lalat gede-gedean…” jawab Jang Edwin.
“Lalat diternak? Buat apaan? Di sini kan nggak diternak pun sudah banyak, tinggal nangkap aja kalo mau…” tanya Kabayan lagi.
“Lala-lalat ini diternak untuk diambil belatungnya Kang.. nah belatungnya itu akan dijadikan sebagai bahan pakan hewan ternak seperti ayam, ikan, dan lain-lain. Selama ini, pakan hewan ternak lebih banyak diambil dari bahan ternak lagi seperti tepung ikan dan juga kedelai, jagung dan lain-lain…” jawab Jang Edwin. “Lah kalau kita beternak dengan memberi pakan dari ikan, jagung, kedelai seperti itu kan berarti kita rebutan dengan ternak, padahal tepung ikan, jagung, dan kedelai juga dijadikan bahan makanan manusia. Jadi, kalau pakan untuk ternak berasal dari larva lalat, kan tepung ikan, kedelai, dan jagung itu bisa dipakai buat keperluan lain yang berhubungan dengan makanannya manusia. Jadi nggak rebutan…” lanjutnya.
Kabayan mengangguk-angguk, “Ya idenya bagus juga sih Jang, memanfaatkan lalat. Selama ini kan kita menganggap lalat itu sebagai hewan yang tak berguna dan hanya jadi biang peyakit. Tapi masalahnya, bagaimana mereka memelihara lalat itu, bagaimana pula dengan makanannya, jangan-jangan lalat itu harus dikasih pakan yang bahannya sama dengan yang dimakan manusia….” kata Kabayan.
“Ya bahan pakan lalat itu memang sama dengan bahan makanan manusia, tapi bedanya, makanan lalat itu adalah makanan manusia yang sudah tidak terpakai, alias limbah…” jawab Jang Edwin, “Akang bisa bayangkan sendiri berapa banyak limbah makanan yang dihasilkan manusia, terutama di kota besar. Kalau di kampung sih masih dimanfaatkan buat pakan ternak. Tapi yang di kota-kota? Limbah makanan itu lebih banyak numpuk di tempat sampah dan menambah polusi udara karena baunya. Nah, itu yang bakal dipakai sebagai makanan lalat yang diternak itu. Hebat kan?”
Kabayan mengangguk-angguk lagi, “Bener Jang, jumlah sampah bisa berkurang banyak kalau begitu. Sampah makanan dipakai buat pakan lalat, sampah plastik dan lain-lain didaur ulang… wah, bener-bener ide hebat…” katanya. “Terus kapan kita beternak lalatnya?” tanyanya.
Jang Edwin tersenyum, “Ya kita belum mulai, baru perusahaan Australia itu yang mulai, mereka sedang membangun peterakannya di Afrika Selatan. Setelah itu, mereka akan mengembangkannya di seluruh dunia,” jawabnya.
“Wah, kita harus ikut.. di Indonesia bisa dibangun banyak pabrik tuh, kayak di Bantargebang buat nampung sampah dari Jakarta, Leuwi Gajah buat nampung yang dari Bandung, dan lain-lain. Selain itu, kita juga yang di kampung kan bisa mengembangkannya dalam jumlah yang lebih kecil, buat pakan ternak ikan kita sendiri!” kata Kabayan.
“Bener Kang..” kata Jang Edwin.
“Gimana kalau kita mulai aja sekarang Jang?” tanya Kabayan.
Jang Edwin tersenyum, “Ya silakan kalau bisa Kang, tangkepin lalat, kandangin, terus kasih makan deh…”
“Tapi, bisa-bisa saya dianggap orang gila ya!” kata Kabayan.
“Banyak bisnis aneh yang dulunya dinggap gila, kayak bisnis cacing, telur semut, kelabang, dan lain-lain. Tapi justru orangnya malah banyak yang sukses, setelah itu baru banyak yang ngikutin…” kata Jang Edwin.
“Iya Jang, bener, orang kita mah sukanya memberi penilaian dulu sebelum melihat hasil.. setelah hasilnya bagus baru ikut-ikutan. Dan yang namanya ikut-ikutan kan nggak pernah sesukses yang diikuti…” kata Kabayan.
“Nah itu tau.. ya udah, sana ternak lalat duluan, sebelum yang lain ikutan!” kata Jang Edwin.
“Kalau nggak laku gimana Jang?” tanya Kabayan.
“Coba aja dimasak, siapa tau rasanya enak, kayak ulat sagu di Papua!”
Kabayan bergidik, “Yang bener aja Jang, semiskin-miskinnya, saya masih punya bahan makanan lain! Ya udah lah, liat yang dikerjakan orang Australia itu aja dulu deh…” kata Kabayan.
“Katanya mau jadi pioner.. kok nunggu!”
“Belum siap dianggap gila, Jang!” kata Kabayan sambil cengar-cengir…
sumber: http://green.kompasiana.com/polusi/2014/06/25/mari-beternak-lalat-660594.html
0 Response to "Beternak Lalat"
Posting Komentar